What's new
Live Casino Sbobet Online Agen Live Casino Online ituCasino Judi Poker Domino 99 ituQQ
Agen Judi Poker Domino99 dan Ceme Online Indonesia
Banner
Agen Poker BandarQ Online ituPoker
Banner
Agen Terpercaya Oppa Bet Online
Kikil.Net

Register a free account today to become a member! Once signed in, you'll be able to participate on this site by adding your own topics and posts, as well as connect with other members through your own private inbox!

  • Guest BUATLAH THREADS PADA CATEGORY YANG DI SEDIAKAN
    Segala Bentuk Spam Akan di Hapus Secara Keseluruhan Threads & Post, Bantuan Email : FORUMSODASUSU@GMAIL.COM
    CEK EMAIL VERIFIKASI REGISTER DI FOLDER SPAM
Agen Bola Agen Bola Agen Poker togel online Situs Sbobet Online Bandar Poker Sakong BandarQ Online

jablay 3

cukimbe

New member
Joined
Jan 12, 2014
Messages
1,588
Reaction score
0
Points
0
Setengah jam kemudian kami bertiga sudah berada di lobby, Bongo’sterlihat cukup ramai apalagi ada live musik seperti biasanya. PakJackie terlihat sangat menikmati suasananya, apalagi ada 2 wanitacantik dan sexy mengapitnya, meskipun satu istrinya dan satunya lagiadalah “teman bobok”. Bergantian kami dance, saat slow music mengalundiapun mengajakku. Diantara keremangan lampu Pub, tubuh kami menempelerat, agak ragu kusandarkan kepalaku di dadanya, entah istrinya melihatatau tidak. Aku tak kuasa menolak saat tangan Pak Jackie dengan nakalmeremas remas pantatku, jangankan cuma meremas, lebih dari itupun diasudah melakukan, tapi ini di depan istrinya, nekat juga dia.
Alunan musik berubah menghentak ketika mbak Lita meminta suaminyakembali, tentu saja aku harus menyerahkannya, duduk sendirian tentulahakan mengundang mata mata jalang yang banyak beredar di tempat sepertiini. Meskipun dalam remang remang, aku sangat yakin banyak mata lakilaki yang memperhatikanku, tentu kalau mereka berpikir aku wanita yangbisa di booking, pasti dia akan berpikir begitu juga pada mbak Litayang datang bersamaku, apalagi pakaian kami yang memang sangatmengundang birahi.Tak lama kami di Bongo’s, terus berpindah ke FireDiscoutik yang letaknya tidak jauh. Bagiku Fire Diskotik bagaikanhalaman bermain, seperti halnya di Kowloon, meski aku tak pernahmencari tamu disitu tapi itulah tempat bagiku menumpahkan segalakekesalan dan keruwetan hidup. Dari pengamatanku, pengunjung diskotikrata rata orangnya sama dari hari ke hari, meskipun tidak tahu namakami hanya mengenal wajah saja.Terus terang saat itu aku khawatir kalauada ex-tamu atau langgananku yang berada disana, tentu akan membukapenyamaranku dimata mbak Lita.Tak ada yang menarik di dickotik itu,kecuali beberapa laki laki iseng ataupun germo yang coba mengajakkencan atau menawari tamu, aku sudah khawatir saja tapi ternyata mbakLita hanya ketawa ketawa saja menghadapi ajakan ajakan seperti itu,sepertinya dia sudah terbiasa dan dengan cueknya dia tidak menggubrisajakan para laki laki itu.
Entah pukul berapa kami meninggalkan Fire, terlalu malam untuk jalankaki kembali ke hotel, meskipun jaraknya dekat demi keamanan kamipunmengambil taxi yang stand by disitu.
“Jack, kita antar lily pulang dulu ya, kasihan udah jam segini pastinggak aman kalo naik taxi sendirian” kata mbak Lita saat kami didalamtaxi, dia terbiasa memanggil suaminya Papa atau hanya namanya saja.
Sesaat kami terdiam, nggak tahu harus menjawab gimana, mengantar kerumah tentu saja akan menimbulkan kecurigaan karena aku memang sewakamar di tempat yang kebanyakan penghuninya tak jauh berbeda denganprofesiku, pasti dia akan curiga melihat suasana tempatku.
“nggak usah repot repot, lagian udah terlalu larut, nggak enak samatetangga, aku buka kamar aja deh” jawabku sekenanya tanpa mintapersetujuan Pak Jacky.
“good idea, lagian jam segini nggak baik dilihat orang, ntar dikirain wanita apaan” Pak Jacky menimpali pertanda setuju.
Sesampai di hotel aku langsung check in, tentu saja hanya pura purasaja mendatangi meja receptionis, hanya ngobrol tanya tanya sedikitsupaya dikira mbak Lita sedang check in, beruntung dia terlalu capekuntuk ikutan ke receptionis, dia hanya menunggu di sofa.
Aku berkeras tak mau diantar mereka sampai ke kamar.”kalian kan capek,nggak usahlah, toh kita cuma beda beberapa lantai saja kok, dan disinikan aman” elakku, kalau sampai mbak Lita masuk ke kamarku tentu diatahu kalau aku sebenarnya sudah check in.
Sesampai di kamar aku langsung tidur tanpa berganti pakaian, terlalu lelah dan terlalu menegangkan untuk kulalui.
Entah berapa lama aku tertidur ketika kudengar hp-ku berbunyi, ternyata dari Pak Jacky.
“bangun bangun non, aku udah didepan pintu nih” kata suara dari seberang.
Dengan mata masih berat kupaksakan berdiri dan membuka pintu, Pak Jackysudah berdiri di depan dengan pakaian lengkap memakai jas segala.
“jam berapa sih Pak kok pagi pagi begini udah rapi” sapaku dengan suara yang masih parau ngantuk.
Tanpa menjawab Pak Jacky langsung mendekapku dari belakang, disibaknyarambutku dan bibirnya mulai menciumi tengkuk, aku yang masih setengahtersadar menggelinjang geli. Sebelum aku sempat berbuat apa apa,tangannya sudah menyusup di balik kaos dan menggerayangi buah dadakuyang memang tidak mengenakan bra.
“sudah sejak semalam aku ingin melakukan ini” bisiknya sambil mengulumtelinga, membuat aku semakin menggelinjang.Secara reflek tangankupunmulai menggerayangi selangkangan Pak Jacky, ternyata sudah mengeras.Ketika kubuka resliting celananya, ternyata dia sudah tidak mengenakancelana dalam.
Pak Jacky membalik tubuhku, diciuminya leher dan bibirku, hilang sudahrasa kantuk yang tadi masih menggelayut, berganti dengan gairah di pagihari. Tak sampai semenit dia berhasil melucuti pakaian yang menutupitubuhku dan ditariknya tubuh telanjang ini dalam pelukannya.
Puas menyusuri leher, buah dada dan melumat bibirku, Pak Jackymembopong tubuh telanjangku ke ranjang dan langsung menindih.Tanpamelepas jas yang dikenakannya, dia melanjutkan kulumannya pada buahdada, perut hingga ke selangkangan dan berhenti pada liangkenikmatanku. Gelinjang dipagi hari bertambah desahan dan rintihannikmat, kuremas remas kepala yang ada diantara kedua pahaku. Pantatkuturun naik mengimbangi permainan lidah yang tengah menari narimenyalurkan hasrat birahi yang menggebu, sesekali kakiku menjepit dantak jarang pula naik ke kepala, dalam keadaan begini siapa yang pedulidengan apa yang namanya sopan santun.Desahan demi desahan meluncurderas dari mulutku, hingga dikagetkan bunyi hp-ku, sambil menerimajilatan di vagina, kuraih hp yang ada di meja dekat ranjang, pasti darisalah satu GM pagi pagi gini udah nelpon.
Tanpa melihat siapa yang menelepon langsung kujawab.
“halooo” jawabku dengan suara agak parau sambil sedikit menahan desah“pagi nyonya besar, baru bangun ya” ternyata mbak Lita, untung diamengira suara parau itu suara bangun tidur bukannya suara desahannikmat.Spontan kudorong kepala Pak Jacky yang masih beradadiselangkanganku, aneh rasanya bicara sama mbak Lita sementara suaminyatengah berada dalam jepitan pahaku, tapi rupanya dia tak peduli.
“eh mbak Lita, udah bangun ?” tanyaku dengan suara agak keras supayaPak Jacky tahu kalau istrinya yang telpon, namun bukannya berhenti tapimalahan memperhebat serangannya, tangannya mulai ikut ikutan keluarmasuk vagina.
“he eh…ya mbak…ya….he he…” hanya itulah yang keluar dari mulutku sambilmendengar omongan mbak Lita bersamaan dengan permainan oral suaminya divagina, sesekali kujepit atau kuremas kepalanya.
Cukup lama mbak Lita bicara dan aku hanya menjawab sekenanya atau lebihtepatnya cuma jawaban pendek dan selama itu pula suaminya mempermainkanvaginaku. Namun begitu aku agak panik ketika Pak Jacky tanpamempedulikan aku yang tengah bicara dengan istrinya tiba tiba membukakakiku lebar lebar dan bersiap memasukkan penisnya. Aku berusahamenutup kakiku rapat rapat tapi tangan dia lebih kuat untukmementangkannya kembali. Mataku melotot ke arahnya pertanda marah tapidia hanya membalas dengan senyum kemenangan sambil mulai menyapukanpenisnya ke vagina, akupun terpaksa menyesuaikan posisitubuhku.Kupejamkan mata dan kugigit bibirku saat Pak Jacky perlahanmelesakkan penisnya, sementara diseberang telepon istrinya terusnyerocos tanpa henti, aku yang berada diantaranya jadi serba salah.
Pikiranku sudah tak konsentrasi lagi pada apa yang dibicarakan mbakLita karena kocokan Pak Jacky yang semakin menghebat, semampuku menahandesahan kenikmatan, sungguh siksaan tersendiri. Hanya sesaat kudengarmbak Lita mengajakku ikut ke Jakarta saat pulang nanti malam, aku hanyamenjawab “he eh, ya deh, terserah aja” jawabku pasrah lebih dikarenakanPak Jacky.
“…Jacky sekarang makin hot lho….menyerah aku dibuatnya…nggak rugi dehikut di Surabaya…dia sangat berbeda saat di Jakarta….” lamat lamatkudengar suara mbak Lita dari seberang, aku tak terlalu menanggapikarena suaminya sedang mengocokku dari belakang dengan posisi dogiesambil meremas remas kedua buah dadaku. Entah apalagi yang diucapkanmbak Lita aku tak bisa menerima dengan jelas apalagi menanggapi.
“… eh mbak ada telepon masuk nih, ntar aku sambung lagi ya” kataku berusaha memutus hubungan saat Pak Jacky memintaku di atas.
“… oke deh aku yakin kamu dan Jacky pernah dekat tapi it was past, pastis past but thanks anyway” katanya memutuskan pembicaraan.
“kamu gila…gilaaaaaaaaaaaaaaa” Begitu hubungan telepon terputus,kulempatkan telepon ke ranjang dan langsung saja kuambil kendali,tubuhku dengan liar bergerak menari nari naik turun diatas Pak Jacky,diapun mulai berani mendesah, begitu juga aku.
Pagi itu kami bercinta dengan penuh gairah dan nafsu, apalagi setelahtahu nanti malam mereka balik ke Jakarta dengan last flight, Pak Jackymenumpahkan semua nafsu birahi yang masih tersisa seakan menghabiskansemua yang ada padaku. Dan akupun menerima segala limpahan birahi tanpamempedulikan istrinya yang tengah sendirian di kamar lain, kunikmatasaat spermanya membanjiri vagina dan mulut.
“kamu hebat, belum pernah aku melakukan seperti ini dengan Lita”katanya sebelum meninggalkan kamarku seraya meninggalkan sebuah checkdi meja yang nilainya jauh lebih tinggi daripada kalau aku menemanitamu lain dalam waktu yang sama, sungguh diluar dugaanku.
Pukul 2 aku bersiap check out setelah beristirahat melayani Pak Jackytadi pagi, Lita sudah menunggu di Lobby hotel, mereka juga akan checkout tapi ntar sore.Untuk menghindari kecurigaan mbak Lita, kuminta roomboy membawa pakaianku terlebih dahulu, jadi aku bisa turun tanpamembawa pakaian yang sudah kubawa beberapa hari.
“Li, kamu ntar ikut kami ke Jakarta, nanti aku perkenalkan padatemanku, siapa tahu dia tertarik dan bisa menjadikan kamu salah satumodelnya, body dan wajah kamu sangat menunjang, sayang kalau disiasiakan dan terbuang percuma apa yang kamu miliki, apalagi kamu masihmuda. Aku jamin deh pasti temanku mau” ajaknya saat kami makan siang.
Sebenarnya dunia modeling bukanlah terlalu baru bagiku, sebelum akukawin aku pernah ikut model dan jadi peragawati amatir di kotaku dulu,sebuah kota kecil di Jawa Timur, meski hanya meraih runner up, tapicukup membuat bangga saat itu dan merasa aku adalah paling cantik dikota itu.
Aku sering mendengar, meski tidaklah bisa dipukul rata, bagaimanakehidupan para model atau peragawati yang tak jarang juga menerimabookingan tidur para laki laki dengan harga tinggi, apalagi kalaupernah tampil di majalah. Kesempatan emas serasa terbentang lebar didepan mata.Tapi entah mengapa rasanya terlalu berat meninggalkan kotaSurabaya yang sudah mengukir berbagai macam pengalaman dalam hidupku.
“kamu coba aja, ntar ikut aku dan kuperkenalkan sama beberapaphotographer dan modelling agent yang menanganiku” lanjut mbak Litamelihat keragua raguanku.
Aku diam saja tak menjawab, terus terang pikiran berkecamuk untuk mempertimbangkan tawaran itu.
“udah, nggak usah diputusin sekarang, ikut aja 2-3 hari setelah itukamu putuskan setelah melihat bagaimana kehidupan Jakarta dengan duniamodellingnya” katanya.
Aku hanya menurut saja dalam kebimbangan.
“kamu pulang dulu ntar malam kita berangkat sama sama, biar bill hotelaku jadikan satu aja” katanya. Aku panik, kalau sampai bill hotelkudibayari, tentu saja dia akan tahu kalau aku sebenarnya menginapbeberapa hari.
“permisi mbak aku ke toilet dulu” kataku selanjutnya.
Tanpa setahu mbak Lita, aku langsung menyelesaikan bill hotel kamarkudan bergegas menghampiri concierge untuk minta tasku dan kutaruh dimobil. Kutelepon Pak Jacky minta pertimbangan karena mbak Litamengajakku ke Jakarta, tapi tanpa menceritakan ajakan menjadi model,toh dia akan tahu juga nantinya.
Seperti dugaanku, Pak Jacky langsung mendukung, tentu saja dia akanbisa mencumbuku lebih lama lagi, kesempatan menikmati tubuhku lebihjauh.
Akhirnya, malam harinya aku ikut suami istri itu terbang ke Jakarta,kuabaikan bookingan yang datang. Kami duduk di deret bangku yang sama,karena Lita menyukai duduk di dekat jendela (meski malam hari tak bisamelihat apa apa diluar kecuali hanya gelap), maka Pak Jacky dudukditengah antara aku dan Lita. Tentu saja menyenangkan Pak Jacky karenabisa duduk disampingku.
Setelah sajian makan malam (waktu itu pesawat masih menyajikan makanpada penerbangannya, tidak seperti sekarang yang hanya sekedar kue danaqua) dan lampu mulai redup, kurasakan tangan Pak Jacky mulaimenggerayang di pahaku, apalagi istrinya seperti mulai terlelap. Tanpaperlu berkata kata, berulang kali tangan Pak Jacky berhasil meremasremas buah dadaku, padahal istrinya ada disamping. Aku membiarkan sajadan menggoda sambil meremas remas selangkangannya, dia pura puratertidur dengan menutupkan koran pada paha, sebenarnya untuk menutupitanganku yang berada diselangkangan.Sungguh tindakan berani pada celahyang sempit seperti di pesawat dengan istri yang duduk disamping.
Untung perjalanan hanya satu jam, kalau tidak, mungkin Pak Jacky sudahorgasme di celana, apalagi sengaja kulepas bra saat aku ke toilet,sehingga Pak Jacky bisa makin leluasa mempermainkan putingku meski dariluar.
Sopir sudah menunggu ketika kami keluar dari airport dan langsungmenuju ke Hotel Mandarin, hotel yang dipilihkan Pak Jacky, belakanganbaru kutahu kalau itu dekat dengan kantornya dan dia bisa segeramenemuiku sepulang kantor atau sebelum ke kantor.
Malam itu aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa “gangguan” dari PakJacky, inilah pertama kali aku merasakan kesepian di kamar hotel, belumpernah aku sendirian begini di kamar, selalu ada laki laki yangmenemani dan harus kulayani. Baru kusadari kenapa laki laki inginditemani bila perjalanan ke luar kota, karena sendirian di kamartidaklah menyenangkan. Tak heran bila banyak tamuku yang ingin kutemanisampai pagi, meski hanya sebatas teman ngobrol maupun dengan all nightlong sex.Ingin rasanya kutelepon teman teman untuk sekedar temanngobrol, pasti banyak yang masih bangun meski sudah pukul 11 malam,karena bagiku jam segitu masihlah sore, diskotik baru mulai.Kalau sajaaku tahu seluk beluk Jakarta, tentu aku sudah keluar ke diskotik tapiJakarta sangatlah asing bagiku. Meski beberapa kali aku menginap diJakarta, belum pernah aku ke diskotik sendirian, selalu ada yangmenemani dan selalu baru bisa tidur selepas pukul 3 pagi karena masihharus menyelesaikan “kewajiban”. Justru lebih banyak ruteAirport-Hotel-Airport tanpa tahu yang namanya Monas dimana, apalagiAncol atau Taman Mini.
Pukul 8.30 pagi Pak Jacky sudah berada di kamar sebelum ke kantor,bersamaan dengan mbak Lita yang menelepon. Maka kejadian morning fuckseperti di surabaya kemarin terjadi lagi.Sambil merasakan cumbuan dannikmatnya kocokan suaminya, aku mendengarkan rencana mbak Lita hariini, mengenalkan aku pada teman temannya.
Selama di Jakarta, setiap pagi aku melayani nafsu birahi Pak Jackysebelum ke kantor, tidak bisa lama lama karena setelah itu pukul 9-10mbak Lita menjemput dan memperkenalkan pada teman temannya. Banyakpramugari,model bahkan para artis yang sudah punya nama dikenalkan,mereka yang selama ini hanya bisa aku lihat di majalah dan iklan, kaliini aku temui secara langsung. Begitu juga photografer, pokoknya sianghari aku berada dilingkungan selebrity, mengenal pergaulan merekahingga malam larut dengan dunia malamnya ala selebrity yang sebenarnyamenurutku tidaklah jauh berbeda dengan kehidupan malam yang selama iniaku jalani.Hanya bedanya, malamku hampir selalu berakhir dipelukan lakilaki sedangkan mereka setelah clubbing aku tak tahu kemana merekapergi.Tak kuduga sambutan teman teman mbak Lita sangat baik danwelcome, bahkan beberapa photographer telah langsung melakukan beberapapemotretan.
Seperti yang kuduga, selalu ada 1-2 ajakan agen atau photographer untuktidur dengannya bila ingin cepat meng-orbit, entah dengan atau tanpasetahu mbak Lita. Aku hanya tersenyum saja menganggapi ajakan itu,meski tidaklah kaget tapu cukup kagum dengan kenekatan mereka yangmengajak dengan terus terang (aku tidak bermaksud mendeskreditkansiapapun yang terlibat dalam profesi seperti ini, tapi inilahpengalaman yang kualami).Selama 3 hari di Jakarta, entah sudah berapaajakan tidur yang kutolak, dan selama itu pula setiap pagi kulayanibirahi Pak Jacky. Dan akupun merasakan kesepian setiap kali kembali kekamar hotel dari clubbing tanpa ada sentuhan dan belaian dari lakilaki. Sebenarnya aku bisa saja mendapatkan laki laki, tapi rasanya akumasih memandang mbak Lita dan menjaga citra dihadapannya. Aku tidaktahu dan tidak mau tahu apakah mbak Lita juga mengalami hal yang samadenganku atau bahkan tidur dengan laki laki lain selain suaminya, itubukanlah urusanku. Makanya aku tak pernah bercerita pada mbak Litamengenai ajakan ajakan tidur itu.
Sebenarnya pada hari kedua, mbak Lita mulai menyadari kesepiankusendirian di Hotel, dia menawari supaya tidur di rumahnya yang luasdibilangan Menteng tapi aku menolak, begitu juga ketika kutanyakan padaPak Jacky (tanpa setahu mbak Lita tentu saja), dia tidak setuju karenatidak bisa bebas menemuiku sebelum ke kantor dan tak mungkin dilakukandi rumah.
Hari ketiga aku sudah tidak tahan lagi dan ingin kembali “berbisnis” diSurabaya, apalagi selama di Jakarta tidaklah jelas bayaran yang akuterima selama melayani Pak Jacky dipagi hari, dan yang pasti sudahbanyak kerugian karena tidak menerima tamu selama 3 hari selain PakJacky.
Pagi itu pada hari ketiga, setelah melayani suaminya, akupun utarakanrencanaku untuk kembali ke Surabaya sore hari nanti, dia terkejutkarena berharap aku bisa tinggal lebih lama lagi, paling tidakseminggu, masih banyak yang ingin ditunjukkan padaku mengenai dunianyayang penuh glamour, tapi aku bersikeras untuk pulang sore itu, makambak Lita-pun tak bisa menahan lebih lama lagi.
Mbak Lita minta maaf karena tidak bisa mengantarku ke Airport, adapemotretan iklan, sebenarnya dia ingin mengajakku juga karenapemotretannya dilakukan di Puncak.
“sorry ya Ly, tapi aku bisa kirim sopir untuk mengantarmu ke airport”katanya via hp”ah nggak usah merepotkan mbak, aku bisa naik taxikok”Meski mbak Lita memaksa aku tetap menolak dan kuputuskan naik taxikarena ada perasaan nggak enak dengan kebaikan mbak Lita selama ini danaku masih tidur dengan suaminya, meski hanya sekedar bisnis.
“Thanks ya mbak selama di Jakarta mau menemaniku dan memberiku wawasan baru, salam untuk Pak…eh Jacky” kataku hampir keceplosan.
“oke deh kalau gitu, tolong pertimbangkan tawaranku selama ini, please, oke bye bye and see you ” katanya.
Limabelas menit kemudian, dia meneleponku.”Ly, kebetulan Jacky adaacara mendadak harus ke Ujung Pandang, aku minta dia menjemputmu biarsekalian berangkat ke Airport, daripada kamu sendirian”katanya”pokoknya tunggu aja dia pasti datang menjemput kok” katanyatanpa menunggu persetujuanku.
Satu jam kemudian aku sudah kembali duduk di samping Pak Jacky dalam BMW-nya menuju airport.
Dia menyuruhku menunggu sebentar selagi dia beli tiket, aku kaget saatditunjukkan dua tiket dengan tujuan Denpasar atas nama dia dannamaku.Pak Jacky hanya tersenyum melihat kekagetanku.”kata mbak Litakamu mau ke ………….”"………ujung pandang ? itu hanya alasanku saja supayadia tidak curiga, dan aku ingin bulan madu denganmu di Bali, 3 haricukupkan, kalau nggak bisa kita extend kok” jawabnya dengan senyumpenuh kemenangan.
Maka jadilah aku menemani Pak Jacky kembali, hari pertama kami habiskandengan penuh nafsu di Nusa Dua, Bali, sedangkan hari berikutnya atasusulku, kamipun menyebrang ke Lombok, berbulan madu di Hotel Sheraton.Dia benar benar menggunakan waktu sebaik baiknya atas diriku, seakantak mau meluangkan waktu terbuang tanpa menyentuhku.Gairah danbirahinya benar benar ditumpahkan padaku tanpa mengenal lelah, seakanmewujudkan semua fantasy-nya selama ini pada diriku. Akupunmengimbanginya dengan godaan godaan penuh nafsu, setiap pagi kamisunbathing di pantai, sebagaimana turis yang ada disana, akupunmengikuti topless saat berjemur, meskipun aku mencari tempat yangteduh.Kami benar benar merasakan berbulan madu yang sesungguhnya.
Tiga hari di Lombok kami rasa tidaklah cukup tapi ada pekerjaan yangmenuntutnya untuk segera kembali ke Jakarta, maka kamipun terpaksaharus meninggalkan Pulau Lombok yang exotic.Kamipun berpisah diSurabaya karena memang mencari pesawat yang transit di Surabaya, akupulang dan kembali melanjutkan profesiku selama ini dan dia kembali keistrinya yang cantik itu.
Mengenai tawaran mbak Lita terpaksa harus aku abaikan karena banyak halyang harus kupertimbakngkan (belakangan aku menyesali keputusanku ini,seandainya aku terima tawaran mbak Lita, mungkin aku sudah masuklingkungan selebrity sekarang ini, toh lingkungan itu tidak jauhberbeda dengan lingkunganku di surabaya meski dengan nuansa yangberbeda, namun penyesalan selalu datang belakangan).
Pada saat cerita ini ditulis, Pak Jacky sedang meringkuk di penjarakarena terlibat korupsi dan KKN, maklum anak pejabat di masa Orde Baru,tahu sendirikan sepak terjangnya. Sedangkan mbak Lita, aku tak pernahlagi mendengar sepak terjangnya ataupun melihatnya di media masa.Sesekali kupandangi majalah lama dengan cover wajahnya yang cantik dansexy itu.
 

Top